“Yang disebut PH tanah lah, kemudian drone, IoT, smart farming. Itu kan sifatnya teknis, recehan lah menurut saya,” kata dosen yang juga Ketua Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhoti) Bali itu.
“Menurut saya kalau digabungkan antara tiga pemikiran itu, misalnya, akar masalahnya apa, impor bahan banyak, apa kebijakannya? Seperti polanya Prof Mahfud dan Muhaimin,” sambungnya.
Terlepas dari itu, Rai menyayangkan ketiga cawapres tidak menyinggung soal pendidikan pertanian dalam debat tersebut. Padahal, Rai menilai para cawapres memahami akar permasalahan sistem pertanian di Indonesia.
“Termasuk edukasi pertanian, pendidikan ilmu pertanian, sekolah-sekolah pertanian itu tidak muncul dari tiga calon,” tutur Rai.
Rai kemudian menyinggung pertanyaan para panelis yang menurutnya kurang rinci. Sehingga, ketiga cawapres hanya mengulang-ulang jawaban dan tidak menukik terhadap substansi permasalahan.
“Saya pernah menjadi panelis, pertanyaan terlalu global dan kata kuncinya tidak memancing cawapres untuk mengeluarkan apa yang mereka pahami. Sayang sekali, panelis yang begitu keren tapi pertanyaannya terlalu umum,” imbuh mantan dekan Fakultas Pertanian Unud itu.
Harusnya, lanjut Rai, ada poin-poin penting dari pertanyaan panelis yang bisa dielaborasi oleh para cawapres. “Tentang pertanian misalnya, untuk memajukan pertanian ke depan kebijakannya apa? Komoditas strategisnya bagaimana? APBN berapa persen? Harusnya seperti itu,” pungkasnya.
Sumber : detik
Jl. Gatot Subroto No.Kav. 2, RW.3, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan