Heboh! Pak Anies Dilarang datang Ke Pesantren Ini Lagi
- account_circle Redaksi
- calendar_month Ming, 14 Jan 2024

Heboh! Pak Anies Dilarang datang Ke Pesantren Ini Lagi
Bagi kalangan santri dan pesantren, pasangan Anies-Muhaimin (AMIN) bukanlah orang lain. Pasangan adalah yang paling ideal, dua-duanya, Capres dan Cawapres sama-sama pernah nyantri. Anies pernah nyantri di Ponpes Pabelan, Magelang dan Gus Imin (panggilan akrab Muhaimin Iskandar) bukan sekedar santri, bahkan lahir dan tumbuh di Ponpes Denanyar, Jombang tinggalan dari kakeknya yang juga salah satu pendiri NU, yaitu alm. KH Bishri Sansuri. Jadi, baru kali ini, Indonesia memiliki pasangan Capres-Cawapres yang keduanya hasil didikan pondok pesantren.
Lalu apakah seluruh kiai, santri dan pesantren otomatis mendukung pasangan AMIN? Tentu tidak. Pasti ada sebagian kecil pesantren yang mendukung pasangan selain AMIN karena beberapa faktor, misalnya: pengasuhnya memiliki hubungan keluarga baik langsung maupun tidak langsung dengan Paslon lain, memiliki ‘utang budi’ dengan Paslon lain karena dulu pernah dibantu, atau juga kebetulan pesantren tersebut berafiliasi dengan partai tertentu yang mendukung Paslon lain. Ada juga, pesantren sudah telanjur ‘ber-akad’ dengan paslon lain dengan komitmen sejumlah mahar. Hal-hal di atas tentu tidak dapat dipungkiri, tapi jumlahnya tidak banyak.
Bahwa mayoritas Ponpes mendukung pasangan AMIN adalah sebuah keniscayaan. Yang menarik, rata-rata Ponpes yang mendukung pasangan AMIN, mereka bergerak secara organik. Mungkin dikarenakan oleh perasaan bahwa pasangan AMIN adalah bagian dari dirinya yang layak untuk diperjuangkan untuk menduduki posisi tertinggi di negeri ini.
Rata-rata masing-masing pesantren punya cara sendiri untuk mengekspresikan dukungannya. Mereka tak hanya bergerak di internal pesantren, mereka menginstruksikan jaringan alumninya untuk bergerak. Mereka tak pernah meminta apa-apa, selain jika nanti jadi presiden ada perhatikan secara khusus dunia pesantren. Beri ruang seluas-luasnya untuk berkontribusi memajukan Indonesia.
Opini oleh: Khoirul Bakhri, Wakil Sekretaris PCI-NU Aljazair dan alumnus Universitas Emir Abdelkadir Constantina Aljazair

Author Redaksi
Jl. Gatot Subroto No.Kav. 2, RW.3, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan