Ikuti kami di Google News

Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel dan Iran terlibat aksi saling serang untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diberlakukan dua bulan lalu. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, langsung turun tangan dengan mendorong kedua negara untuk segera menghentikan permusuhan dan menempuh jalur damai.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Kedua belah pihak, Israel dan Iran, sedang berupaya melakukan gencatan senjata segera!” kata Trump sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Senin (8/6/2026).

Pernyataan itu disampaikan Trump tak lama setelah ia memperingatkan kedua negara agar segera menghentikan rentetan serangan yang dilancarkan masing-masing pihak. Trump menegaskan bahwa proses negosiasi perdamaian tengah berada di tahap akhir.

“Negosiasi akhir mengenai ‘perdamaian’ sedang berlangsung, asalkan tidak terhalang oleh ketidaktahuan atau kebodohan,” ujarnya.

Trump Desak Gencatan Senjata Israel Iran yang Kian Memanas

Kronologi Eskalasi Terbaru

Eskalasi terbaru ini menjadi babak baru dalam konflik panjang antara kedua negara. Iran dilaporkan meluncurkan rentetan rudal ke arah Israel pada Minggu malam hingga Senin dini hari waktu setempat. Israel pun tak tinggal diam dan membalas dengan menyerang sejumlah lokasi militer di wilayah Republik Islam Iran.

Serangan dari Teheran tersebut bukan tanpa pemicu. Aksi itu terjadi setelah Israel lebih dulu menyerang sejumlah target kelompok Syiah Lebanon yang didukung Iran, yakni Hezbollah, di kawasan pinggiran selatan Beirut. Rangkaian peristiwa ini menandai baku tembak langsung pertama sejak kesepakatan gencatan senjata pada April lalu.

Iran Tegaskan Tetap di Meja Perundingan

Di tengah memanasnya situasi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tetap berkomitmen pada jalur diplomasi. Ia menyebut Teheran telah menghentikan serangan terhadap Israel sebagai bentuk itikad baik.

“Diplomasi dan pertahanan adalah dua sayap kekuatan nasional. Kami tidak meninggalkan medan perang maupun meja perundingan,” kata Pezeshkian.

Meski demikian, Pezeshkian menekankan bahwa sikap Iran tidak boleh ditafsirkan sebagai kelemahan. “Teheran tidak akan mundur dalam menghadapi ancaman apa pun,” tegasnya.

Syarat Tegas dari Militer Iran

Komando pimpinan militer Iran, Khatam al-Anbiya, juga mengumumkan penghentian operasi terhadap Israel. Namun, langkah ini disertai dengan syarat dan peringatan keras.

Pihak militer Iran memberikan beberapa penekanan penting dalam pernyataannya, antara lain:

  • Operasi militer terhadap Israel dihentikan untuk sementara waktu.
  • Penghentian agresi mencakup wilayah Lebanon Selatan menjadi syarat utama.
  • Jika permusuhan kembali berlanjut, balasan yang disiapkan akan jauh lebih dahsyat.

“Ditekankan bahwa jika tindakan agresi dan permusuhan terus berlanjut, termasuk di Lebanon Selatan, langkah-langkah yang jauh lebih keras dan menghancurkan daripada sebelumnya akan menyusul,” demikian pernyataan dari komando militer Iran.

AS Dianggap Bertanggung Jawab

Dalam pernyataan terpisah, Iran sebelumnya menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas kembali pecahnya konflik dengan Israel. Tudingan ini menambah kompleksitas peran AS, yang di satu sisi berupaya menjadi penengah perdamaian namun di sisi lain dianggap sebagai sekutu utama Israel.

Situasi di Timur Tengah kini berada di titik krusial. Dengan kedua belah pihak sama-sama menyatakan menghentikan serangan namun tetap dalam posisi siaga penuh, peluang gencatan senjata yang didorong Trump sangat bergantung pada kepatuhan masing-masing pihak terhadap syarat yang diajukan.

Komunitas internasional kini menanti apakah upaya diplomasi tahap akhir ini benar-benar mampu mencegah konflik yang lebih luas, atau justru kembali tersulut menjadi perang terbuka yang lebih besar di kawasan tersebut.