Jakarta – Timnas Indonesia menorehkan tinta emas baru dalam sejarah persepakbolaannya. Skuad Garuda berhasil menundukkan Oman dengan skor meyakinkan 3-0 dalam laga FIFA Matchday yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat (5/6) malam. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri puasa panjang selama 38 tahun atas Oman.
Kemenangan terakhir Indonesia atas Oman tercatat pada tahun 1988, di era Zein Al Haddad dan kawan-kawan. Kini, generasi baru yang dimotori Rizky Ridho berhasil mengulang prestasi tersebut, bahkan dengan penampilan yang menuai banyak pujian.
Akhiri Puasa 38 Tahun, Timnas Indonesia Bungkam Oman 3-0 dan Tuai Pujian Sang Pelatih
Pelatih Oman Acungi Jempol untuk Garuda
Usai pertandingan, pelatih Oman Tarik Sektioui tak menyembunyikan kekagumannya terhadap penampilan tim asuhan tuan rumah. Ia bahkan langsung membuka sesi konferensi pers dengan pujian kepada Timnas Indonesia.
“Kami melawan tim yang sangat terorganisir dan kuat. Kami sudah katakan kemarin, mereka adalah tim modern tapi ini laga yang bermanfaat untuk kedua tim,” ujar Sektioui di hadapan awak media.
Pelatih asal Maroko itu menilai kekuatan utama Indonesia terletak pada kerja sama tim yang solid. Menurutnya, kualitas kolektif para pemain Garuda menjadi salah satu faktor penentu hasil akhir laga.
“Mereka punya kualitas baik secara kolektif,” tuturnya singkat namun penuh makna.
Indonesia Disebut Tim Modern
Sektioui kemudian menjelaskan alasan di balik julukan ‘tim modern’ yang ia sematkan kepada Indonesia. Menurutnya, kekuatan fisik para pemain Merah Putih menjadi aspek yang sangat menonjol, terutama di babak pertama.
“Timnas Indonesia punya kemampuan secara fisik. Jadi secara fisik mereka bisa mengendalikan pertandingan di babak pertama. Mereka begitu cepat terutama di babak pertama,” jelas pria yang pernah memperkuat klub raksasa Portugal, FC Porto, tersebut.
Dominasi fisik dan kecepatan inilah yang membuat barisan pertahanan Oman kerepotan sepanjang laga, hingga akhirnya kebobolan tiga gol tanpa balas.
Faktor Gol Awal dan Kesalahan Individu
Meski mengakui keunggulan Indonesia, Sektioui menilai anak asuhnya sebenarnya tidak tampil buruk. Ia menyebut babak pertama berjalan dengan permainan taktis yang cukup baik dari kedua kuda.
Namun, gol cepat dari Indonesia disebutnya menjadi titik balik yang mengubah arah pertandingan. Kondisi diperparah dengan tantangan cuaca berupa angin kencang yang menyulitkan timnya.
“Babak pertama begitu taktis. Dari sudut pandang itu, kami sebenarnya bermain bagus di babak pertama. Tapi gol dari Indonesia membuat posisi kami semakin sulit terutama dari cara kami mengatasi angin,” paparnya.
Ia menambahkan, gol-gol lanjutan yang bersarang ke gawang Oman tidak lepas dari kesalahan individu para pemainnya. “Poin lain adalah ada kesalahan individu yang menyebabkan gol lawan bertambah,” lanjut Sektioui.
Optimisme di Tengah Kekalahan
Kendati menelan kekalahan telak, Sektioui yang baru resmi menukangi Oman sejak 22 Maret 2026 berusaha tetap memandang masa depan dengan optimistis. Ia menganggap laga melawan Indonesia sebagai pengalaman berharga untuk membangun skuad berjuluk Al Ahmar tersebut.
Bagi Indonesia, kemenangan ini bukan sekadar mengakhiri rekor buruk panjang, tetapi juga berdampak positif pada peringkat dunia. Hasil gemilang di SUGBK membawa Timnas Indonesia naik beberapa tangga dalam ranking FIFA terbaru.
Pujian dari pelatih lawan menjadi bukti bahwa perkembangan sepak bola Indonesia kini mulai diperhitungkan di kancah internasional. Dengan modal kepercayaan diri dan kualitas kolektif yang terus meningkat, skuad Garuda diharapkan mampu mempertahankan momentum positif ini di laga-laga selanjutnya.




